Melihat Pulau Seribu Tahun 1969

pulau seribu

Bagaimana keadaan Pulau Seribu di akhir tahun 1960-an? Penulis Sjurman Dipawidjaja mengisahkannya dalam artikel berjudul “Gugusan Pulau Seribu Merupakan Hawai di Indonesia?” di majalah Moderna edisi 10 Juli 1969.

Menurut Sjurman, Gubernur Jakarta Ali Sadikin pernah mengatakan, keindahan alam Pulau Seribu tidak kalah dengan Hawaii. Sjurman menulis, tak semua pulau-pulau itu ada penghuninya. Ketika itu, hanya 25% yang berpenduduk, dengan jumlah seluruhnya kurang-lebih 700 jiwa. Sedikit dibandingkan sekarang, yang menurut data berjumlah lebih dari 30.000 jiwa.

Sjurman menyebut nama-nama pulau—yang barangkali sekarang sudah berganti nama—yang menurutnya cukup populer bagi wisatawan, antara lain Pulau Puteri, Pulau Nirwana, Pulau Monyet, Pulau Air, Pulau Panggang, dan Pulau Tidung. Menurutnya, setiap akhir pekan, bahkan hari biasa, ada saja pengunjung yang mau menyeberang ke sana.

“Kapal motor sengaja bertolak dari Tanjung Priok atau Pasar Ikan, membawa penumpang-penumpang yang ingin menikmati keindahan alam Pulau Seribu,” tulis Sjurman.

Selain dari dua tempat tadi, wisatawan juga bisa berangkat dengan kapal motor lewat dermaga kecil, tak jauh dari Jachtclub. Ongkosnya—jika kita pakai ukuran nominal uang sekarang—tentu sangat murah.

“Ongkos (ke) Pulau Nirwana, Pulau Air, dan pulau lainnya yang telah digarap menjadi objek pariwisata hanya antara Rp200 dan Rp300 seorang pergi dan pulang,” kata Sjurman.

Sesampainya di pulau tujuan, Sjurman mengatakan, kita bebas mengerjakan apa pun. Misalnya, mandi di air laut yang jernih, tiduran di bawah pohon yang rindah, atau memancing ikan yang banyak di tepian pantai.

“Atau kalau mungkin, bermain sky, menyelam dengan alat penyelam seperti masker, snorkel, dan vin untuk menyaksikan taman laut yang indah,” tulis Sjurman.

“Bahkan, lebih dari itu, Anda bisa makan enak di restoran-restoran yang ada di pulau yang telah digarap itu sambil menikmati nyanyian para biduanita diiringi band-band yang didatangkan dari Jakarta.”

Menurut Sjurman, penduduk pulau bekerja sebagai nelayan, Mereka berasal dari Mandar, Sulawesi Selatan dan Banten.

Secara administratif, saat itu Pulau Seribu merupakan kecamatan bagian dari DKI Jakarta. Masyarakat di Pulau Seribu mulai mendapat perhatian sejak 1968, dengan membangun sistem komunikasi. Sjurman menulis, atas perintah Pangdamar Harjono, didirikan sebuah terminal stasiun bus laut, yang merupakan kantor penghubung antara darat dan lautan.

“Terminal stasiun itu menyediakan fasilitas-fasiltias dermaga, dan persediaan bahan bakar minyak,” ujar Sjurman.

“Selain itu, dua kapal motor disediakan untuk tugas angkutan logistik yang akan mengangkut bahan kebutuhan pokok, seperti beras, minyak, garam, dan sebagainya.”

Camat, yang tadinya bertempat di Jakarta, pada 1967 diperintahkan pindah ke wilayah Pulau Seribu. Lalu, sekolah dasar diperbanyak, serta didirikan sekolah menengah. Dokter dan para petugas kesehatan serta bidan juga telah diusahakan untuk ada yang bertugas di sana.

“Pendeknya, kehidupan masyarakat nelayan Pulau Seribu yang beratus-ratus tahun seolah-olah dianaktirikan dan dibedakan dari waga Jakarta lainnya, sekarang telah diusahkan untuk ditingkatkan,” tutur Sjurman.

error: Content is protected !!
Scroll to Top