Ada Apa Saja di Pulau Putri Tahun 1969?

20251205 105325

Pulau Putri di Kepulauan Seribu, Jakarta, kini dikenal sebagai pulau resor yang bisa menjadi pilihan wisatawan. Kegiatan wisata di Pulau Putri sangat beragam. Mulai dari Undersea Tunnel Aquarium—satu-satunya di Kepulauan Seribu, yang memungkinkan pengunjung berjalan di bawah laut lewat terowongan kaca untuk melihat terumbu karang dan ikan-ikan secara langsung, snorkeling, selam scuba, banana boat, kano, hingga jet ski.

Dari dermaga Marina Ancol, perjalanan bisa ditempuh selama sekitar 1,5 jam. Namun, dahulu situasinya tentu berbeda.

Mahmud Fatha menulis artikel “Paradise on Princess Island Diteluk Djakarta” dalam majalah Selecta, 16 Juni 1969, menggambarkan situasi Pulau Putri waktu itu.

Menurut Mahmud, saat itu Pulau Putri sudah menjadi objek wisata, dikelola Kolonel Laut Jasa Natakusuma. Sedangkan untuk pemasaran dan transportasinya dikelola Marintour. Untuk mencapai pualu dengan luas kira-kira 8 hektare itu, tentu berbeda dengan sekarang.

Dahulu, diceritakan Mahmud, untuk ke Pulau Putri ditempuh kira-kira 3,5 jam perjalanan memakai kapal motor dari Cilincing, Jakarta Utara. Pilihannya, bisa naik motorboat atau diesel cruiser (kapal penjelajah diesel) bermuatan 12 orang dengan ongkos Rp25.000; atau outboard cabin cruiser (kapal pesiar kabin tempel) bermuatan 8 orang dengan ongkos Rp20.000, muatan 6 orang Rp15.000, dan muatan 2 orang Rp10.000.

Jika sekarang sudah banyak cottage, tahun 1969 hanya ada 4 bungalow untuk 4 orang dengan biaya sewa Rp3.500 per malam. Bila rombongan lebih dari 4 orang, maka setiap orang lebihnya harus membayar Rp500.

Karena keterbatasan penginapan itu, pengunjung juga bisa tidur dengan tenda untuk 4 orang, yang bisa disewa Rp2.000 semalam. “Jika ingin tidur di alam bebas, cukup membayar sewa pulau itu Rp250 per malam,” tulis Mahmud.

20251205 105334
Pengunjung Pulau Putri tahun 1969 menikmati karang-karang di laut./Foto Selecta, 16 Juni 1969.

Dahulu, tak ada makanan matang yang tersedia. Setiap tamu dianjurkan membawa makanan atau memasak sendiri. Wisatawan bisa memancing ikan atau menombak udang di laut. Kalau malas mancing, pengunjung bisa membeli ikan dari warga Rp350 per kilogram atau udang Rp250 per kilogram.

“Bagi yang suka berenang, boleh berenang sehari suntuk di laut, bagi yang suka menyelam, alat ‘frogmen’ tersedia,” tulis Mahmud.

“Bagi yang pandai main ski air, motor boot dan perlengkapannya serba ada, sewanya hanya Rp1.500 per jam. Bagi yang punya hobi melamun, disediakan pancing atau alat-alat fishing lainnya, untuk satu motor boot muatan 4 orang Anda harus membayar Rp1.000 per jam.”

Pengelola juga menyediakan perahu layar dengan muatan 4 orang, berbiaya sewa Rp400 di jam pertama, dan jam-jam selanjutnya Rp200 per jam. Disediakan pula perahu layar muatan 2 orang, dengan sewa Rp300 per jam.

Anda pun dapat memancing di malam hari, dengan menyewa perahu layar plus lampu petromak. Biaya sewanya di jam pertama Rp500 dan jam-jam selanjutnya Rp250 per jam.

“Pantainya bersih, airnya bening, dan karang-karang laut dengan ikan-ikan berkeliaran seperti dalam akuarium besar saja kelihatannya,” kata Mahmud.

Mahmud mengatakan, bagi mereka yang menyukai keindahan lama, Pulau Putri bak surga. Mereka akan terpesona. Dia menyarankan, jika tak sempat melihat Bali, setidak-tidaknya bisa berkunjung ke Pulau Putri walau hanya sekali seumur hidup. Akan tetapi, dia tak menyarankan pergi ke sana bagi orang-orang yang napas dompetnya senin-kemis.

“Bagi yang hidupnya untuk mencari sesuap nasi saja sudah sukar sekali, lupakanlah. Pulau Putri bukan untuk kita. Janganlah mimpi, nyakitin,” ujar Mahmud.

error: Content is protected !!
Scroll to Top